Urutan Pengerjaan Hitung dalam matematika


Urutan Pengerjaan Hitung
                        Dahulu dalam matematika lama ada perjanjian bahwa pengerjaan hitung haruslah diurutkan dari operasi kali, menyusul operasi bagi, operasi tambah, kemudian operasi kurang. Mengapa demikian? Pendapat matematika lama bahwa operasi kali lebih kuat dari pada operasi hitung yang lainnya, yang lebih kuat haruslah didahulukan. Begitu pula operasi bagi lebih kuat dari pada operasi tambah dan kurang, dan operasi tambah lebih kuat dari operasi kurang.
                        Kita perhatikan contoh-contoh berikut ini :
Contoh 1.
1). 12 : 6 =2 dan 6 = 2 x 3
Kalau ada soal 12 : 2 x 3 maka hasilnya adalah 2, sebab perkalian lebih kuat dari pada pembagian, sehingga 12 : 6 = 2
Dengan demikian menurut matematika lama 12 : 2 x 3 hasilnya tidak boleh 18.
2). Kita lihat berikut ini
            12 : 6 =2 dan 6 = 3 x 2 atau 6 = 3 x 8 : 4
            Jadi 12 : 6 = 12 :3 x 8 : 4
            = 12 : 24 : 4                 [perkalian didahulukan]
            = 1/2 : 4
            = 1/8
3). Kita jalankan lagi dengan cara yang lain :
            12 : 6 = 2, 6 = 4 + 6
            Jadi 12 : 6 = 12 : 4 + 2
4). Kita perhatikan contoh yang lainnya a : a dengan menggunakan matematika lama.
            i. a : a = a : 1 x a
                        = a x a
                        = a2
                ii. a : a = a : 1/2a + 1/2a
                        = 2 + ½ a
            iii. a : a = a : a2 : a
                        = 1/a : a
                        = 1/a2
                                Dengan memperhatikan contoh-contoh diatas, jika kita berpegang teguh pda perjanjian matematika lama, bahwa urutan pengerjaan hitung adalah perkalian, pembagian, penjumlahan dan penngurangan, maka hasilnya bisa bermacam-macam, sedangkan hasil suatu operasi haruslah tunggal. Jadi alasan yang digunakan dalam matematika lama kurang kuat dan sebagai akibat ternyata akan kacau.
                        Oleh karena itu yang penting bukanlah aturan yang bermacam-macam, namun haruslah ada kejelasan dari pembuat soal (penanya/guru). Bila diperlukan pakailah tanda kurang agar yang mengerjakan soal mengetahui mana yang harus dikerjakan terlebih dahulu dan mana yang harus dikerjakan kemudian. Kita ingat setiap soal yang disajikan mengemban tujuan instruksional masing-masing. Kita bukanlah main “teka-teki” dengan siswa. Bagi siswa yang penting bukanlah hafal urutan pengerjaan, sehingga anak dibebani aturan-aturan yang harus dihafalkan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
            Untuk soal seperti 12 : 3 x 2 + 9 – 5 sebaiknya dijelaskan oleh guru apa yang semestinya dikerjakan siswa. Apakah [(12 : 3) x (2 + 9) – 5 atau [12 : (3 x 2) + (9 – 5)] atau yang lainnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Persentil, Percentil Ranks, dan Interpolasi

Materi dan Pembahasan Klasifikasi aksioma

Penjelasan Metode Subtitusi dan Eliminasi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel